Refleksi Kuliah
Filsafat Ilmu
Pertemuan : 1
Hari, tanggal :
Selasa, 4 September 2018
Sebuah Awal yang Baik
Sembilan belas mahasiswa PPs program studi
Pendidikan Matematika A 2018 mengikuti pertemuan perdana kuliah Filsafat Ilmu
dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Para mahasiswa telah duduk di
kursi berjajar rapi menghadap ke timur siap mengikuti perkuliahan. Namun, tepat
sebelum perkuliahan dimulai, kami harus mengubah posisi kursi disusun berbentuk
menyerupai letter U menghadap dosen. Sungguh menarik bukan, kuliah dengan
posisi seperti itu? Posisi duduk seperti itu membantu mahasiswa tetap fokus
pada perkuliahan, tersusun lebih rapid an rapat, pandangan tidak menyebar
kemana-mana sehingga perhatian kita dapat tertuju pada dosen. Perkuliahan
dimulai dengan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Setelah itu adalah
perkenalan antara dosen dengan mahasiswa. Suasana yang baru sangat mendukung
untuk berkenalan. Prof. Marsigit memulai memperkenalkan diri kemudian meminta
mahasiswa untuk memperkenalkan dirinya meliputi nama, asal kampus S1, dan asal
daerah. sebagai informasi tambahan, nama Prof. Marsigit cukup eksis di dunia
maya. Buktinya adalah ketika kita search nama beliau di google, langsung muncul
banyak informasi tentang beliau yang berisi hal-hal yang luar biasa. (check it
out).
Perkenalan diri selesai, Prof. Marsigit
kemudian melanjutkan menjelaskan sistem perkuliahan mata kuliah Filsafat Ilmu
meliputi metode perkuliahan diikuti dengan tugas-tugas yang harus tuntas
dikerjakan. Kuliah filsafat ilmu sistemnya kuliah online, tatap muka, dan
refleksi. Sistem perkuliahan online dan tatap muka ini dapat dikatakan sebagai
metode blended learning. Pembelajaran secara online ini dilaksanakan dengan
penyajian materi filsafat oleh Prof. Marsigit di blog https://powermathematics.blogspot.com/
dimana Prof. Marsigit telah posting sekitar 800 bacaan di blog.
Mahasiswa wajib membaca blog tersebut dan
memberi komentar yang berkaitan dengan topik yang dibahas dalam blog tersebut.
Mahasiswa harus komentar sebanyak 600 komentar sebagai modal awal minimal. Hal
ini syarat untuk bisa mendapat nilai A. Nilai ini juga ada potongan-potongan.
Potongan pertama, syarat membaca yaitu ikhlas dalam hati dan pikiran. Ikhlas
dalam hati artinya jujur, barokah, doa tidak manipulatif, jangan coba-coba main
curang, jangan coba sekedar mencari target. Jika ketahuan maka akan terpotong.
Potong kedua, kalau ada kuliah tidak memenuhi syarat. Potongan ketiga, kalau ada
tugas yaitu tugas refleksi tidak mengumpulkan. Potongan yang lain adalah tugas
akhir seperti makalah, paper dan lainnya tapi tidak mengumpulkan.
Perkuliahan tatap muka merupakan perkuliahan
yang dilaksanakan setiap hari Selasa di ruang kelas pukul 15.20 – 17.10 WIB diampu
oleh Prof. Marsigit. Saat perkuliahan ini, mahasiswa menyiapkan handphone-nya
untuk merekam apa yang disampaikan oleh Prof. Marsigit. Melalui hasil rekaman
ini, diharapkan mahasiswa dapat mendengarkan lagi pembelajaran yang
dilaksanakan kemudian membuat refleksi kuliah filsafat. Selain itu, handphone
juga digunakan untuk searching referensi.
Setelah membahas sistem perkuliahan,
perkuliahan hari ini dilanjutkan dengan penjelasan dari Prof. Marsigit mengenai
filsafat. Belajar filsafat Prof. Marsigit ini pelajari pikiran dan hidup
beliau. Terdapat tingkatan yaitu dari filosofi turun menjadi ideologi, ideologi
turun menjadi paradigma, paradigma turun menjadi teori, teori turun menjadi
model, model turun menjadi sintak, sintak turun menjadi contoh. Segala ilmu ada
dua hal yang disebut objek material dan objek formal. Objek material itu isinya
dan objek formal itu metodenya. Seseorang yang melihat itu ada dua hal yaitu
apa yang dilihat dan bagaimana cara melihat. Artinya semuanya baik ilmu,
ibadah, rumah tangga, dan segalanya pasti seperti itu. Mendengar juga demikian
yaitu apa yang didengar dan bagaimana cara mendengar. Tidur sekalipun juga
demikian. Karena sebenar-benar filsafat itu berpikir.
Penjelasan selanjutnya tentang kedudukan tingkatan dalam berfilsafat. Spitirual merupakan tingkatan paling tinggi. Objek formal itu tata cara atau adab. Dimanapun
kita berada harus berada. Tidak hanya manusia yang menggunakan tata cara, namun
bisa hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung meletus dan semua yang ada di dunia ini
menggunakan tata cara. Tata cara itu ada yang dibuat manusia dan ada yang sudah
takdirnya. Jadi dalam berfilsafat jangan salah paham. Sebelum berfilsafat maka
kuatkan agamanya. Dengan meningkatkan ibadahnya juga doanya. Jangan sampai
dengan berfilsafat menjadi salah arah karena pada akhirnya nanti filsafat itu
akan kembali kepada diri kita masing-masing. Turun ke bawah filsafatnya yaitu bagaimana
filsafat berfilsafat. Filsafatnya berfilsafat yaitu sifatnya orang berfilsafat.
Sifatnya berusaha memahami. Filsafat itu olah pikir. Filsafat itu satu grade di
bawah spiritual tetapi tidak pernah menjangkau spiritual karena filsafat dan
spiritual itu beda domain. Domain filsafat itu pikiran dan domain spiritual
adalah hati dan yang lainnya. Filsafat itu lebih lembut dari benda yang paling
lembut, karena filsafat itu mengisi ruang tanpa mengisi, karena apa yang diisi
sebenarnya sudah terisi. Yang bisa mengalahkan kelembutan filsafat adalah
kelembutan hati atau spiritual. Wujud dari spiritual adalah cahaya.
Prof. Marsigit melanjutkan perkuliahan
dengan meminta mahasiswa untuk mengakses youtube menyaksikan pagelaran
kethoprak “Rembulan Kekalang” dalam rangka dies natalis 54 UNY. Setelah
menyaksikan beberapa adegan yang ada dalam video, Prof. Marsigit meminta beberapa
mahasiswa untuk menyimpulkan apa yang diperoleh seteleh melihat video tersebut.
Pada kethoprak tersebut Prof. Marsigit menjadi salah satu pemainnya. Beliau berperan
sebagai raja. Berikut tanggapan mahasiswa setelah melihat adegan kethoprak.
1. Ibrohim Aji Kusuma : Dalam ketoprak sepertinya menceritakan suatu
kerajaan, dengan raja yang diperankan oleh Pak Marsigit. Dalam ketoprak
tersebut sepertinya sedang membicarakan pemilihan adipati. Ada Pak rektor
sebagai adipati yang duduk di bawah Pak Marsigit. Ada hal yang membuat terkejut
yaitu pada bagian akhir ketika peperangan, Pak Marsigit ketika ditusuk dengan
keris tidak mempan itu hal yang luar biasa.
2. Yoga Prasetya : Pak
Marsigit dalam kethoprak berperan
sebagai raja yaitu sebagai patih Purboyo. Alur ceritanya dalam kerajaan karena
adipati sudah mulai tua mungkin maka dilakukan pergantian. Ada pangeran Adi
Mataram yaang diperankan oleh Pak Rektor.”
3. Yuntaman Nahari : Pak Marsigit sebagai raja, akan ada peralihan
kekuasaan. Bagian yang mengena adalah bagian terakhir yaitu ketika Pak Marsigit
ditusuk tapi tidak mempan.
4. Fany Isti Bigo : Kurang
mengerti dengan kethopraknya. Intinya
Pak Marsigit sebagai raja akan memberi kekuasaan pada pangeran Adi Mataram (Pak
rektor). Kemudian ada pemberontakan yaitu ditangkap langsung. Kemudian pada
bagian akhir terjadi peperangan, dan ketika Pak Marsigit ditusuk tapi tidak
mempan.
5. Agnes Teresa Panjaitan : Intinya dalam ketoprak ada penyerahan
kekuasaan, pertengkaran, Pak Marsigit berperan sebagai raja yang kebal.
Menurut pendapat saya,
pendapat teman-teman mahasiswa ini sudah sedikit menggamabrkan beberapa adegan
dalam kethoprak. Teman-teman mahasiswa ini tidak semua berasal dari Jawa namun
bisa mengetahui adegan yang diperankan.
Adegan kethoprak (adegan menusuk) itu baru apa yang
dilihat adalah kualitas pertama yaitu yang kelihatan dan yang didengarkan.
Kualitas yang kedua adalah metafisik artinya dibalik yang dilihat dan didengar.
Contoh adegan
menusuk yaitu apabila mahasiswa belum memenuhi persyaratan kelulusan namun meminta
lulus, berarti hal tersebut menusuk direktur. Untuk dapat memahami makna
metafisik seperti ini, mahasiswa diharapkan banyak membacaKualitas berikutnya adalah kualitas semua
dikurangi kualitas yang terlihat dan didengar. Seperti pikiran, perasaan, dan
lainnya. Jadi manusia itu hanya sedikit mengerti. Ditusuk secara harfiah sakit bisa
mati. Namun secara metafisik, dapat diberi maksud. Misalnya ditusuk itu adalah
godaan. Hidup ini full of godaan
seperti godaan marah, godaan menipu, suap, korupsi, menyiarkan hoax, dan
seterusnya, dari mulai godaan penglihatan, perasaan, pemikiran dan lainnya. Pada kethoprak itu, pangeran Purboyo ditusuk dengan gratifiksai
dan yang lain tidak mempan. Jika ditusuk mempan maka habis sudah Pangeran
Purboyo menjadi raja karena telah tergoda.
Berperang dengan tumenggung itu artinya
Pangeran Purboyo keluar dari kegelapan atau keburukan, dalam hal ini bermakna
bahwa agar keluar dari kegelapan adalah dengan mencari ilmu. Setelah berhasil
menangkap, mengerahkan prajurit untuk melawan artinya pada jaman sekarang tidak
bisa mengatasi masalah sendirian, perlu adanya tim dan bekerja sama untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah. Masalah pada jaman sekarang sangat kompleks. Adanya tim dengan berbagai keahlian
masing-masing yang dapat memecahkan masalah dengan optimal, pada adegan kethoprak
ditunjukkan untuk menangkap penjahat atau kegelapan
adalah diikat dengan ilmu. Ilmu itu tidak fakir. Tidak berilmu itu fakir. Fakir
cenderung miskin. Orang yang tidak berilmu itu cenderung miskin. Orang yang
miskin cenderung tidak berilmu. Dengan demikian, manusia diwajibkan untuk mencari ilmu agar tidak fakir dan diharapkan
tidak miskin. Miskin dalam filsafat itu semuanya. Miskin ilmu, miskin
silahturahmi, dan semuanya maka ilmu itu penting untuk mengikat kebodohan.
Berfilsafat itu bisa dari apa saja yang bisa
dipikir, dirasakan, dan didengar, contohnya ketoprak
sangat bisa sebagai objek filsafat. Selain itu,
semut yang sedang bercengkrama saja bisa menjadi objek filsafat. Dalam hal ini, berfilsafat harus bisa berangkat
dari hal yang sepele dan dalam berfilsafat itu dari sesuatu yang jelas menjadi
tidak jelas. Mahasiswa
dengan dosen itu sudah beda dimensi. Dengan demikian cara berpikir dan ilmunya pasti berbeda. Prof. Marsigit juga memberitahukan
paradigma belajar adalah hidup, filsafat adalah hidup. Hidup itu menembus ruang dan waktu artinya menembus
ruang dan waktu itu dalam hidup jaman sekarang apapun bisa dikerjakan tanpa
adanya batasan ruang dan waktu -kapanpun dan dimanapun- dengan bantuan
teknologi yang canggih.
Prof. Marsigit tidak akan dan tidak berharap
mahasiswa tidak seperti dirinya. Belajar filsafat itu tidak sekedar karena
menjadi orang dewasa. Tetapi memahami pikiran dan hidup Pak Marsigit.
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa mahasiswa
harus belajar
filsafat dimanas saja dan kapan saja, langkah yang bisa dilakukan adalah membuka,
membaca, dan memahami isi dari postingan di blog pak Prof. Marsigit, menghadiri
perkuliahan, dan membuat refleksi. Diharapkan mahasiswa tidak hanya
sebagai orang dewasa tetapi memahaminya dengan baik.