Selasa, 30 Oktober 2018

Refleksi 1 - 04092018


Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu
Pertemuan      : 1
Hari, tanggal   : Selasa, 4 September 2018

Sebuah Awal yang Baik

Sembilan belas mahasiswa PPs program studi Pendidikan Matematika A 2018 mengikuti pertemuan perdana kuliah Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Para mahasiswa telah duduk di kursi berjajar rapi menghadap ke timur siap mengikuti perkuliahan. Namun, tepat sebelum perkuliahan dimulai, kami harus mengubah posisi kursi disusun berbentuk menyerupai letter U menghadap dosen. Sungguh menarik bukan, kuliah dengan posisi seperti itu? Posisi duduk seperti itu membantu mahasiswa tetap fokus pada perkuliahan, tersusun lebih rapid an rapat, pandangan tidak menyebar kemana-mana sehingga perhatian kita dapat tertuju pada dosen. Perkuliahan dimulai dengan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Setelah itu adalah perkenalan antara dosen dengan mahasiswa. Suasana yang baru sangat mendukung untuk berkenalan. Prof. Marsigit memulai memperkenalkan diri kemudian meminta mahasiswa untuk memperkenalkan dirinya meliputi nama, asal kampus S1, dan asal daerah. sebagai informasi tambahan, nama Prof. Marsigit cukup eksis di dunia maya. Buktinya adalah ketika kita search nama beliau di google, langsung muncul banyak informasi tentang beliau yang berisi hal-hal yang luar biasa. (check it out).
Perkenalan diri selesai, Prof. Marsigit kemudian melanjutkan menjelaskan sistem perkuliahan mata kuliah Filsafat Ilmu meliputi metode perkuliahan diikuti dengan tugas-tugas yang harus tuntas dikerjakan. Kuliah filsafat ilmu sistemnya kuliah online, tatap muka, dan refleksi. Sistem perkuliahan online dan tatap muka ini dapat dikatakan sebagai metode blended learning. Pembelajaran secara online ini dilaksanakan dengan penyajian materi filsafat oleh Prof. Marsigit di blog https://powermathematics.blogspot.com/ dimana Prof. Marsigit telah posting sekitar 800 bacaan di blog.
Mahasiswa wajib membaca blog tersebut dan memberi komentar yang berkaitan dengan topik yang dibahas dalam blog tersebut. Mahasiswa harus komentar sebanyak 600 komentar sebagai modal awal minimal. Hal ini syarat untuk bisa mendapat nilai A. Nilai ini juga ada potongan-potongan. Potongan pertama, syarat membaca yaitu ikhlas dalam hati dan pikiran. Ikhlas dalam hati artinya jujur, barokah, doa tidak manipulatif, jangan coba-coba main curang, jangan coba sekedar mencari target. Jika ketahuan maka akan terpotong. Potong kedua, kalau ada kuliah tidak memenuhi syarat. Potongan ketiga, kalau ada tugas yaitu tugas refleksi tidak mengumpulkan. Potongan yang lain adalah tugas akhir seperti makalah, paper dan lainnya tapi tidak mengumpulkan.
Perkuliahan tatap muka merupakan perkuliahan yang dilaksanakan setiap hari Selasa di ruang kelas pukul 15.20 – 17.10 WIB diampu oleh Prof. Marsigit. Saat perkuliahan ini, mahasiswa menyiapkan handphone-nya untuk merekam apa yang disampaikan oleh Prof. Marsigit. Melalui hasil rekaman ini, diharapkan mahasiswa dapat mendengarkan lagi pembelajaran yang dilaksanakan kemudian membuat refleksi kuliah filsafat. Selain itu, handphone juga digunakan untuk searching referensi.
Setelah membahas sistem perkuliahan, perkuliahan hari ini dilanjutkan dengan penjelasan dari Prof. Marsigit mengenai filsafat. Belajar filsafat Prof. Marsigit ini pelajari pikiran dan hidup beliau. Terdapat tingkatan yaitu dari filosofi turun menjadi ideologi, ideologi turun menjadi paradigma, paradigma turun menjadi teori, teori turun menjadi model, model turun menjadi sintak, sintak turun menjadi contoh. Segala ilmu ada dua hal yang disebut objek material dan objek formal. Objek material itu isinya dan objek formal itu metodenya. Seseorang yang melihat itu ada dua hal yaitu apa yang dilihat dan bagaimana cara melihat. Artinya semuanya baik ilmu, ibadah, rumah tangga, dan segalanya pasti seperti itu. Mendengar juga demikian yaitu apa yang didengar dan bagaimana cara mendengar. Tidur sekalipun juga demikian. Karena sebenar-benar filsafat itu berpikir.
Penjelasan selanjutnya tentang kedudukan tingkatan dalam berfilsafat. Spitirual merupakan tingkatan paling tinggi. Objek formal itu tata cara atau adab. Dimanapun kita berada harus berada. Tidak hanya manusia yang menggunakan tata cara, namun bisa hewan, tumbuh-tumbuhan, gunung meletus dan semua yang ada di dunia ini menggunakan tata cara. Tata cara itu ada yang dibuat manusia dan ada yang sudah takdirnya. Jadi dalam berfilsafat jangan salah paham. Sebelum berfilsafat maka kuatkan agamanya. Dengan meningkatkan ibadahnya juga doanya. Jangan sampai dengan berfilsafat menjadi salah arah karena pada akhirnya nanti filsafat itu akan kembali kepada diri kita masing-masing. Turun ke bawah filsafatnya yaitu bagaimana filsafat berfilsafat. Filsafatnya berfilsafat yaitu sifatnya orang berfilsafat. Sifatnya berusaha memahami. Filsafat itu olah pikir. Filsafat itu satu grade di bawah spiritual tetapi tidak pernah menjangkau spiritual karena filsafat dan spiritual itu beda domain. Domain filsafat itu pikiran dan domain spiritual adalah hati dan yang lainnya. Filsafat itu lebih lembut dari benda yang paling lembut, karena filsafat itu mengisi ruang tanpa mengisi, karena apa yang diisi sebenarnya sudah terisi. Yang bisa mengalahkan kelembutan filsafat adalah kelembutan hati atau spiritual. Wujud dari spiritual adalah cahaya.
Prof. Marsigit melanjutkan perkuliahan dengan meminta mahasiswa untuk mengakses youtube menyaksikan pagelaran kethoprak “Rembulan Kekalang” dalam rangka dies natalis 54 UNY. Setelah menyaksikan beberapa adegan yang ada dalam video, Prof. Marsigit meminta beberapa mahasiswa untuk menyimpulkan apa yang diperoleh seteleh melihat video tersebut. Pada kethoprak tersebut Prof. Marsigit menjadi salah satu pemainnya. Beliau berperan sebagai raja. Berikut tanggapan mahasiswa setelah melihat adegan kethoprak.
1.      Ibrohim Aji Kusuma : Dalam ketoprak sepertinya menceritakan suatu kerajaan, dengan raja yang diperankan oleh Pak Marsigit. Dalam ketoprak tersebut sepertinya sedang membicarakan pemilihan adipati. Ada Pak rektor sebagai adipati yang duduk di bawah Pak Marsigit. Ada hal yang membuat terkejut yaitu pada bagian akhir ketika peperangan, Pak Marsigit ketika ditusuk dengan keris tidak mempan itu hal yang luar biasa.
2.      Yoga Prasetya : Pak Marsigit dalam kethoprak berperan sebagai raja yaitu sebagai patih Purboyo. Alur ceritanya dalam kerajaan karena adipati sudah mulai tua mungkin maka dilakukan pergantian. Ada pangeran Adi Mataram yaang diperankan oleh Pak Rektor.”
3.      Yuntaman Nahari : Pak Marsigit sebagai raja, akan ada peralihan kekuasaan. Bagian yang mengena adalah bagian terakhir yaitu ketika Pak Marsigit ditusuk tapi tidak mempan.
4.      Fany Isti Bigo : Kurang mengerti dengan kethopraknya. Intinya Pak Marsigit sebagai raja akan memberi kekuasaan pada pangeran Adi Mataram (Pak rektor). Kemudian ada pemberontakan yaitu ditangkap langsung. Kemudian pada bagian akhir terjadi peperangan, dan ketika Pak Marsigit ditusuk tapi tidak mempan.
5.      Agnes Teresa Panjaitan : Intinya dalam ketoprak ada penyerahan kekuasaan, pertengkaran, Pak Marsigit berperan sebagai raja yang  kebal.
Menurut pendapat saya, pendapat teman-teman mahasiswa ini sudah sedikit menggamabrkan beberapa adegan dalam kethoprak. Teman-teman mahasiswa ini tidak semua berasal dari Jawa namun bisa mengetahui adegan yang diperankan.
Adegan kethoprak (adegan menusuk) itu baru apa yang dilihat adalah kualitas pertama yaitu yang kelihatan dan yang didengarkan. Kualitas yang kedua adalah metafisik artinya dibalik yang dilihat dan didengar. Contoh adegan menusuk yaitu apabila mahasiswa belum memenuhi persyaratan kelulusan namun meminta lulus, berarti hal tersebut menusuk direktur. Untuk dapat memahami makna metafisik seperti ini, mahasiswa diharapkan banyak membacaKualitas berikutnya adalah kualitas semua dikurangi kualitas yang terlihat dan didengar. Seperti pikiran, perasaan, dan lainnya. Jadi manusia itu hanya sedikit mengerti. Ditusuk secara harfiah sakit bisa mati. Namun secara metafisik, dapat diberi maksud. Misalnya ditusuk itu adalah godaan. Hidup ini full of godaan seperti godaan marah, godaan menipu, suap, korupsi, menyiarkan hoax, dan seterusnya, dari mulai godaan penglihatan, perasaan, pemikiran dan lainnya. Pada kethoprak itu, pangeran Purboyo ditusuk dengan gratifiksai dan yang lain tidak mempan. Jika ditusuk mempan maka habis sudah Pangeran Purboyo menjadi raja karena telah tergoda.
Berperang dengan tumenggung itu artinya Pangeran Purboyo keluar dari kegelapan atau keburukan, dalam hal ini bermakna bahwa agar keluar dari kegelapan adalah dengan mencari ilmu. Setelah berhasil menangkap, mengerahkan prajurit untuk melawan artinya pada jaman sekarang tidak bisa mengatasi masalah sendirian, perlu adanya tim dan bekerja sama untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah. Masalah pada jaman sekarang sangat kompleks. Adanya tim dengan berbagai keahlian masing-masing yang dapat memecahkan masalah dengan optimal, pada adegan kethoprak ditunjukkan untuk menangkap penjahat atau kegelapan adalah diikat dengan ilmu. Ilmu itu tidak fakir. Tidak berilmu itu fakir. Fakir cenderung miskin. Orang yang tidak berilmu itu cenderung miskin. Orang yang miskin cenderung tidak berilmu. Dengan demikian, manusia diwajibkan untuk mencari ilmu agar tidak fakir dan diharapkan tidak miskin. Miskin dalam filsafat itu semuanya. Miskin ilmu, miskin silahturahmi, dan semuanya maka ilmu itu penting untuk mengikat kebodohan.
Berfilsafat itu bisa dari apa saja yang bisa dipikir, dirasakan, dan didengar, contohnya ketoprak sangat bisa sebagai objek filsafat. Selain itu, semut yang sedang bercengkrama saja bisa menjadi objek filsafat. Dalam hal ini, berfilsafat harus bisa berangkat dari hal yang sepele dan dalam berfilsafat itu dari sesuatu yang jelas menjadi tidak jelas.  Mahasiswa dengan dosen itu sudah beda dimensi. Dengan demikian cara berpikir dan ilmunya pasti berbeda. Prof. Marsigit juga memberitahukan paradigma belajar adalah hidup, filsafat adalah hidup. Hidup itu menembus ruang dan waktu artinya menembus ruang dan waktu itu dalam hidup jaman sekarang apapun bisa dikerjakan tanpa adanya batasan ruang dan waktu -kapanpun dan dimanapun- dengan bantuan teknologi yang canggih. Prof. Marsigit tidak akan dan tidak berharap mahasiswa tidak seperti dirinya. Belajar filsafat itu tidak sekedar karena menjadi orang dewasa. Tetapi memahami pikiran dan hidup Pak Marsigit.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa harus belajar filsafat dimanas saja dan kapan saja, langkah yang bisa dilakukan adalah membuka, membaca, dan memahami isi dari postingan di blog pak Prof. Marsigit, menghadiri perkuliahan, dan membuat refleksi. Diharapkan mahasiswa tidak hanya sebagai orang dewasa tetapi memahaminya dengan baik.