Salam sejahtera untuk semua.
Kembali saya sajikan lagi mengenai materi filsafat yang saya pelajari di bangku kuliah semester 1.
BERBEDA UNTUK MEMBANGUN
Jika kita berselancar diintenet dan mengetikkan keyword timeline philosopher, pasti akan tampak link wikipedia. Kita jumpai banyak filsuf di dunia beserta bidang keahliannya. Berikut saya sajikan tokoh-tokoh dan pandangannya. Para filsuf memiliki pandangan yang berbeda, ya itulah hasil berpikir mereka, berpikir untuk berfilsafat. Perbedaan pandangan itu yang bisa menjadi salah satu tonggak dalam pembangunan atau perkembangan peradaban di dunia. Mengapa demikian? Coba kita pikirkan sendiri-sendiri :)
1. Ideology
of Education
a. Radical
James mengembangkan filsaat dari perspektif radikal
empirism
b. Conservative
Pelopor filosofis konservatif modern dan juga wakil dari
pandangan liberal. Revolusi Perancis
Founding father dari paham
konservatif, dia adalah seorang imam dan teolog berpengaruh. Hooker
penekannanya pada hal toleransi dan nilai tradoso untuk memberikan pengaruh
abadi pada perkembangan Gereja Inggris
Dalam karyanya Heroes and Hero-
Worship (1840), dia mengklaim bahawa setiap masyarakat itu membutuhkan pemimpin
berwibawa yang bisa menghasilkan sebuah consensus diantara kelompok yang
berbeda
c. Liberal
Individu pada State of Nature adalah baik,
namun karena adanya kesenjangan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir jika
hak individu akan diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat perjanjian
yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat
bagi penguasa sehingga tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’. Bentuk Negara
menurut Locke adalah Monarkhi Konstitusional. Keberadaan Negara itu akan
dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan Negara menjadi terbatas – hanya
sebagai “penjaga malam” atau hanya bertindak sebagai penetralisasi konflik.
‘’State of Nature’’, individu itu pada dasarnya jelek (egois)
– sesuai dengan fitrahnya. Namun, manusia ingin hidup damai. Oleh
karena itu mereka membentuk suatu masyarakat baru – suatu masyarakat politik
yang terkumpul untuk membuat perjanjian demi melindungi hak-haknya dari
individu lain di mana perjanjian ini memerlukan pihak ketiga (penguasa). Hobbes
berpendapat akan timbul Negara Monarkhi Absolute. Inti dari terbentuknya
Negara, menurut Hobbes adalah demi kepentingan umum (masing-masing individu)
meskipun baik atau tidaknya Negara itu kedepannya tergantung pemimpin Negara.
Segala kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar
di mana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula
dalam politik.
d. Humanist
1) Abraham Maslow
2) Albert Einstein
3) Betrand Russel
4) Carl Rogere
5) Carl Sagan
6) Erasmus
7) John Dewey
8) Plato
9) Socrates
e. Progressive
Pikiran juga aspek dari organic
yang harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Fungsi pikiran
itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokk dari ilmu pengetahuan
alam.
2) John Dewey
Sekolah adalah progresivisme yang
lebih menekankan kepada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajaran
sendiir. Maka muncullah “Child Centered Curriculum” dan “Child Centered
School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang
belum jelas.
Arti kata tahu itu hanya
mempunyai arti praktis persesuaian dengan objeknya tidak mungkin dibuktikan,
satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gianya untuk mempengaruhi
kejadian-kejadian dunia.
4) George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.
- https://id.wikipedia.org/wiki/Progresivisme
f. Socialist
2) Robert Owen - https://krismawijaya.weebly.com/blog/tokoh-tokoh-ideologi-nasionalisme-sosialisme-komunisme-liberalisme-dan-pan-islamisme
Lingkungan social berpengaruh
pada pembentukan karakter manusia.
3) St. Simon
Bapak sosialisme. Perlunya
sarana-sarana produksi agat dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah
4) Thomas Moore
Sosialis kapitalis. Sosialisme
merupakan reaksi dari kapitalisme sosialisme hanya dapat berkembang di Negara
tradisi liberal yang berkembang, sedangkan di Negara yang tidak memiliki
tradisi ini, sosilisme berubah menjadi faisme.
g. Democracy
2. Nature
of Education
a. Obligation
Deontological philosophy –
kewajiban - obligation. Moralitas
tindakan harus didasarkan pada apakah tindakan itu sendiri benar atau salah di bawah
serangkaian aturan, bukan daripada berdasarkan konsekuensi dari tindakan. Kant
berpendapat bahwa untuk bertindak dengan cara yang benar secara moral, orang
harus bertindak dari tugas (Pflicht). Kant berpendapat bahwa itu
bukan konsekuensi tindakan yang membuat mereka benar atau salah, tetapi motif
orang yang melakukan tindakan. Bertindak dengan cara yang benar secara moral seseorang
harus bertindak murni dari tugas dimulai dengan argumen bahwa kebaikan
tertinggi haruslah baik dalam dirinya sendiri dan baik tanpa kualifikasi.
b. Preserving
1) Thomas Hobbes - https://www.kompasiana.com/tarsyasmat/552fdc8d6ea8347e548b4597/korupsi-dalam-tinjuan-filsafat-thomas-hobbes
c. Exploiting
d. Transforming
e. Liberating
Hegel,
Ranke, dan Droysen
f. Needs
Hierarchy of Needs atau Hierarki Kebutuhan
Adapun
hierarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
a)
Kebutuhan fisiologis atau
dasar
b)
Kebutuhan
akan rasa aman
c)
Kebutuhan
untuk dicintai dan disayangi
d)
Kebutuhan
untuk dihargai
e)
Kebutuhan
untuk aktualisasi diri
g. Democracy
1) John Locke
Filosof pertama yang menghimpun secara terpadu gagasan dasar
konstitusi demokratis
3. The
Nature of Mathematics
a. Body
of knowledge
a) Monisme aliran yang mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu
yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa materi maupun ruhani yang
menjadi sumber dominan dari yang lainnya.
Tokoh : Thales, Demokritos, dan Anaximander, Plato dan
Aristoteles, I. Kant dan Hegel
b)
Dualisme: kelompok
ini meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu
materi(jasad) dan jasmani(spiritual).
Tokoh
: Descartes- (dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan), Aristoteles - materi dan forma (bentuk yang
berupa rohani saja
c) Materialisme : aliran ini menganggap bahwa yang ada hanyalah materi
dan bahwa segala sesuatu yang lainnya yang kita sebut jiwa atau roh tidaklah
merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri.
Tokoh : Thales, Anaximandros, Anaximenes, Demokritos
d) Idealisme : hakikat kenyataan yang beraneka warna itu semua
berasal dari roh (sukma) atau yang sejenis dengan itu.
Tokoh : Plato, J.G. Fichte, G.W.F. Hegel https://harkaman01.wordpress.com/2013/01/11/aliran-aliran-filsafat-idealisme-materialisme-eksistensialisme-monisme-dualisme-dan-pluralisme/
e) Agnostisisme: paham yang mengingkari bahwa manusia mampu mengetahui
hakikat yang ada baik yang berupa materi ataupun yang ruhani.
Tokoh : Jean Paul Sartre
2) Epistemologi - https://www.academia.edu/17719375/Pemikiran_Epistemologi_Barat_dari_Plato_Sampai_Gonseth
a) Plato
: pencetus epistemologi atau the real originator of epistemology, karena
ia telah menguraikan masalah-masalah mendasar tentang pengetahuan
b) Aristoteles
: menetapkan abstraksi sebagai ganti dari ingatan dan intuisi. Dalam
proses abstraksi, pengertian semakin meluas sejauh isi yang dapat
disentuh dengan panca indera semakin menipis, Aristoteles berangkat dari
pengamatan dan penelitian aposteriori, karena segala ungkapan-ungkapan
ilmu terjadi sesudah pengamatan. Jadi, pengetahuan terjadi jika subyek diubah
di bawah pengaruh obyek
c) Francois
Bacon : (1561-1626 M).12 Filsafat Bacon mempunyai peranan penting dalam metode induksi
dan sistimatisasi prosedur ilmiah. memberi kekuasaan pada manusia atas alam
melalui penyelidikan ilmiah (mazhab empirisme.)
d) Rene
Descartes : persoalan dasar filsafat pengetahuan, bukanlah bagaimana kita dapat
tahu, tetapi mengapa kita dapat membuat kekeliruan (mazhab rasionalisme). Descartes
membedakan antara pengetahuan yang murni dan tidak murni. Ia membersihkan
pengetahuan dari keterikatannya kepada segala penampakkan yang bersifat
sementara.
e)
Immanuel
Kant : penyadaran atas kemampuan rasio secara obyektif dan menentukan
batas-batas kemampuannya untuk memberikan tempat kepada kepercayaan. Inilah
persolan yang mengarah pada problem phenomena dan noumena (mazhab
kantinian)
f)
Moritz
Schlick : melahirkan pandangan baru yang disebut neo-positivisme atau
positivisme logis. Selanjutnya muncul gagasan yang mensistesiskan antara
rasional-isme dan empirisme (mazhab postivisme)
3) Aksiologi
a) Aksiologi
Progresivisme
William James, Hans
Vahinger, Ferdinant Sciller, George Santayana, John Dewey
b) Aksiologi
Essensialisme
Desiderius Erasmus,
John Amos Comenius, John Locke, John Hendrick Pestalalozzi, John Frederich
Frobel, Johann Fiedirich Herbanrth, William T. Horris
c) Aksiologi
Perenialisme
Aristoteles, St.
Thomas Aquinas
d) Aksiologi
Rekonstruksionisme
b. Science of truth
1) Auguste comte
Dikenal
sebagai the father of positivisme, dengan Law of three stages sebagai
tesis utamanya. Pencapaian terbesar Comte adalah keberhasilannya menggabungkan deduksi
rasional dan induksi empirik sebagai satu-satunya paradigma yang dapat dipegang
untuk menghasilkan pengetahuan yang benar.
Pengetahuan yang sebenarnya adalah
pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta.
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan sejati.
Pengalaman indrawi sebagai permulaan segala pengenalan.
Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan indralah yang merupakan kebenaran.
Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan pengabungan
data-data indrawi belaka.
4) John Locke
Dalam mencapai kebenaran manusia
harus tahu sampai seberapa jauh ia memakai kemampuannya. Segala pengetahuan
datang dari penglaman dan tidak lebih dari itu. Akal bersifat pasif saat
pengetahuan didapatkan. Akal tidak mandapatkan pengetahuan dari dirinya sendiri
diibaratkan ia adalah selembar kertas putih yang diberi warna oleh berbagai
pengalaman
Empirisme, berpendirian bahwa
hakikat pengetahuan adalah berupa pengalaman. David Home termasuk dalam aliran
empirisme radikal menyatakan, bahwa ide-ide dapat dikembalikan pada
sensasi-sensasi (ransangan indra
The Origin of Species (1859
M), Spencer sudah meneribitkan bukunya tentang teori evolusi. Empirismenya
terlihat jelas dalam filsafat tentang the great unkwable (fenomena-fenomena
atau gejala-gejala). Memang besar dibelakang gejala- gejala itu ada suatu dasar
absolute, tetapi yang absolut itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip
pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala
c. Structure
of truth
1) Kurl Godel
Pikiran manusia mampu bekerja
mencari kebenaran yang tidak dapat dilakukan oleh prosedur mekanistis
3) George Berckeley
4) David Hume
d. Process
of thinking
1) Thales
Meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita
isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam
semesta
3) Alfred North Whitehead
4) Bertrand Arthur William Russel
Bapak ilmu berpandangan bahwa
ilmu pendidikan dibangun melalui riset pendidikan
a)kesimpulan yang diperoleh
melalui penalaran induksi diuji lebih dulu dengan eksperimen, b)penggunaan
eksperimen dalam penyelidikan ilmiah menambah ketelitian dan keluasan
pengetahuan factual, c)dengan kekuatannya sendiir, tanpa bantuan ilmu-ilmu
lainnya, ekpeirmen dapat menyeldidiki rahasia alam
7) Johan Amos Comenius - https://ilmufilsafat.wordpress.com/category/tokoh-tokoh-filsafat-pendidikan/
Manusia diciptakan dan
ditemoatkan di atas semua makhluk, karena kemampuannya dalam berpikir. Proses
pendidikan tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan dilakukan secara
terencana dan bertahap sesuai dengan tahapan perkembangan fisik dan psikis
peserta didik.
e. Social
activities
1)
Auguste Comte
Masyarakat merupakan salah satu
bagian dari alam yang mana menggunakan penelitian empiris digunakan untuk
hokum-hukum sosial
2) Herbet Spencer
Masyarakat mengalami evolusi dari yang awalnya merupakan masyarakat primitif dan kemudian
menjadi masyarakat Industri.Sebagai organisme, manusia berevolusi sendiri terlepas
dari tanggung jawab dan kemauannya serta dibawah suatu hokum
3) Emile Durkheim
Durkheim
lebih membicarakan tentang kesadaran kolektif yang digunakan sebagai kekuatan
moral untuk mengikat individu di dalam suatu masyarakat. Melalui tulisannya yaitu
The Division of Labor in Society, Durkheim menggunakan pendekatan kolektivis
untuk sebuah pemahaman jika masyarakat dapat dikatakan modern atau primitif.
Solidaritas tersebut dalam bentuk nilai, adat istiadat, serta kepercayaan yang
diyakini bersama
4) Max Weber
Weber mengamati
bagaimana perilaku manusia berhubungan dengan sebab dan akibat dalam dunia
sosial. Pandangan mengenai perilaku individu yang bisa mempengaruhi
masyarakat secara luas, hal ini lah yang dinamakan s
ebagai Tindakan Sosial. Menurutnya, tindakan sosial bisa
dipahami asalkan kita dapat memahami ide, niat, nilai, serta kepercayaan sebagai
bentuk dari motivasi sosial (social action)
5) Leopold Von Wiese
Memfokuskan
pada hubungan antara manusia yang mana merupakan kenyataan sosial. Wiese
meneliti mengenai klasifikasi proses-proses sosial yang ditekankan pada proses
sosial asosiatif dan disosiatif.
Setiap orang yang dapat berpikir
adalah seorang agen dan setiap agen dapat mengetahui bahwa maka agen tersebut
dianggap sebagai subjek
(agency - sociology)
Agensi manusia adalah suatu dinamika kolektif dan
historis, alih-alih fungsi yang timbul dari perilaku individu (agency –
philosophy)