Selasa, 18 Desember 2018



Salam sejahtera untuk semua.

Kembali saya sajikan lagi mengenai materi filsafat yang saya pelajari di bangku kuliah semester 1.

BERBEDA UNTUK MEMBANGUN

Jika kita berselancar diintenet dan mengetikkan keyword timeline philosopher, pasti akan tampak link wikipedia. Kita jumpai banyak filsuf di dunia beserta bidang keahliannya. Berikut saya sajikan tokoh-tokoh dan pandangannya. Para filsuf memiliki pandangan yang berbeda, ya itulah hasil berpikir mereka, berpikir untuk berfilsafat. Perbedaan pandangan itu yang bisa menjadi salah satu tonggak dalam pembangunan atau perkembangan peradaban di dunia. Mengapa demikian? Coba kita pikirkan sendiri-sendiri :)


1.    Ideology of Education
a.    Radical
James mengembangkan filsaat dari perspektif radikal empirism
b.    Conservative
Pelopor filosofis konservatif modern dan juga wakil dari pandangan liberal. Revolusi Perancis
Founding father dari paham konservatif, dia adalah seorang imam dan teolog berpengaruh. Hooker penekannanya pada hal toleransi dan nilai tradoso untuk memberikan pengaruh abadi pada perkembangan Gereja Inggris
Dalam karyanya Heroes and Hero- Worship (1840), dia mengklaim bahawa setiap masyarakat itu membutuhkan pemimpin berwibawa yang bisa menghasilkan sebuah consensus diantara kelompok yang berbeda
c.    Liberal
Individu pada State of Nature adalah baik, namun karena adanya kesenjangan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir jika hak individu akan diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat perjanjian yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa sehingga tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’. Bentuk Negara menurut Locke adalah Monarkhi Konstitusional. Keberadaan Negara itu akan dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan Negara menjadi terbatas – hanya sebagai “penjaga malam” atau hanya bertindak sebagai penetralisasi konflik.
‘’State of Nature’’, individu itu pada dasarnya jelek (egois) – sesuai dengan fitrahnya. Namun, manusia ingin hidup damai. Oleh karena itu mereka membentuk suatu masyarakat baru – suatu masyarakat politik yang terkumpul untuk membuat perjanjian demi melindungi hak-haknya dari individu lain di mana perjanjian ini memerlukan pihak ketiga (penguasa). Hobbes berpendapat akan timbul Negara Monarkhi Absolute. Inti dari terbentuknya Negara, menurut Hobbes adalah demi kepentingan umum (masing-masing individu) meskipun baik atau tidaknya Negara itu kedepannya tergantung pemimpin Negara.
Segala kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar di mana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula dalam politik.
d.    Humanist
1)    Abraham Maslow
2)    Albert Einstein
3)    Betrand Russel
4)    Carl Rogere
5)    Carl Sagan
6)    Erasmus
7)    John Dewey
8)    Plato
9)    Socrates
e.    Progressive
Pikiran juga aspek dari organic yang harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Fungsi pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokk dari ilmu pengetahuan alam.
2)    John Dewey
Sekolah adalah progresivisme yang lebih menekankan kepada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajaran sendiir. Maka muncullah “Child Centered Curriculum” dan “Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas.
Arti kata tahu itu hanya mempunyai arti praktis persesuaian dengan objeknya tidak mungkin dibuktikan, satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gianya untuk mempengaruhi kejadian-kejadian dunia.
f.     Socialist
Lingkungan social berpengaruh pada pembentukan karakter manusia.
3)    St. Simon
Bapak sosialisme. Perlunya sarana-sarana produksi agat dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah
4)    Thomas Moore
Sosialis kapitalis. Sosialisme merupakan reaksi dari kapitalisme sosialisme hanya dapat berkembang di Negara tradisi liberal yang berkembang, sedangkan di Negara yang tidak memiliki tradisi ini, sosilisme berubah menjadi faisme.
g.    Democracy

2.    Nature of Education
a.    Obligation
Deontological philosophy – kewajiban - obligation. Moralitas tindakan harus didasarkan pada apakah tindakan itu sendiri benar atau salah di bawah serangkaian aturan, bukan daripada berdasarkan konsekuensi dari tindakan. Kant berpendapat bahwa untuk bertindak dengan cara yang benar secara moral, orang harus bertindak dari tugas (Pflicht). Kant berpendapat bahwa itu bukan konsekuensi tindakan yang membuat mereka benar atau salah, tetapi motif orang yang melakukan tindakan. Bertindak dengan cara yang benar secara moral seseorang harus bertindak murni dari tugas dimulai dengan argumen bahwa kebaikan tertinggi haruslah baik dalam dirinya sendiri dan baik tanpa kualifikasi.
b.    Preserving
c.    Exploiting
d.    Transforming
e.    Liberating
Hegel, Ranke, dan Droysen
f.     Needs
Hierarchy of Needs atau Hierarki Kebutuhan
Adapun hierarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
a)      Kebutuhan fisiologis atau dasar
b)      Kebutuhan akan rasa aman
c)      Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
d)      Kebutuhan untuk dihargai
e)      Kebutuhan untuk aktualisasi diri
g.    Democracy
1)    John Locke
Filosof pertama yang menghimpun secara terpadu gagasan dasar konstitusi demokratis

3.    The Nature of Mathematics
a.    Body of knowledge
a)    Monisme aliran yang mempercayai bahwa hakikat dari segala sesuatu yang ada adalah satu saja, baik yang asa itu berupa materi maupun ruhani yang menjadi sumber dominan dari yang lainnya.
Tokoh : Thales, Demokritos, dan Anaximander, Plato dan Aristoteles, I. Kant dan Hegel
b)    Dualisme: kelompok ini meyakini sumber asal segala sesuatu terdiri dari dua hakikat, yaitu materi(jasad) dan jasmani(spiritual).
Tokoh : Descartes- (dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan),  Aristoteles - materi dan forma (bentuk yang berupa rohani saja
c)    Materialisme : aliran ini menganggap bahwa yang ada hanyalah materi dan bahwa segala sesuatu yang lainnya yang kita sebut jiwa atau roh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri.
Tokoh : Thales, Anaximandros, Anaximenes, Demokritos 
d)    Idealisme :  hakikat kenyataan yang beraneka warna itu semua berasal dari roh (sukma) atau yang sejenis dengan itu.
e)    Agnostisisme:  paham yang mengingkari bahwa manusia mampu mengetahui hakikat yang ada baik yang berupa materi ataupun yang ruhani.
Tokoh : Jean Paul Sartre
a)    Plato : pencetus epistemologi atau the real originator of epistemology, karena ia telah menguraikan masalah-masalah mendasar tentang pengetahuan
b)    Aristoteles : menetapkan abstraksi sebagai ganti dari ingatan dan intuisi. Dalam proses abstraksi, pengertian semakin meluas sejauh isi yang dapat disentuh dengan panca indera semakin menipis, Aristoteles berangkat dari pengamatan dan penelitian aposteriori, karena segala ungkapan-ungkapan ilmu terjadi sesudah pengamatan. Jadi, pengetahuan terjadi jika subyek diubah di bawah pengaruh obyek
c)    Francois Bacon : (1561-1626 M).12 Filsafat Bacon mempunyai peranan penting dalam metode induksi dan sistimatisasi prosedur ilmiah. memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan ilmiah (mazhab empirisme.)
d)    Rene Descartes : persoalan dasar filsafat pengetahuan, bukanlah bagaimana kita dapat tahu, tetapi mengapa kita dapat membuat kekeliruan (mazhab rasionalisme). Descartes membedakan antara pengetahuan yang murni dan tidak murni. Ia membersihkan pengetahuan dari keterikatannya kepada segala penampakkan yang bersifat sementara.
e)    Immanuel Kant : penyadaran atas kemampuan rasio secara obyektif dan menentukan batas-batas kemampuannya untuk memberikan tempat kepada kepercayaan. Inilah persolan yang mengarah pada problem phenomena dan noumena (mazhab kantinian)
f)     Moritz Schlick : melahirkan pandangan baru yang disebut neo-positivisme atau positivisme logis. Selanjutnya muncul gagasan yang mensistesiskan antara rasional-isme dan empirisme (mazhab postivisme)
3)    Aksiologi
a)    Aksiologi Progresivisme
William James, Hans Vahinger, Ferdinant Sciller, George Santayana, John Dewey
b)    Aksiologi Essensialisme
Desiderius Erasmus, John Amos Comenius, John Locke, John Hendrick Pestalalozzi, John Frederich Frobel, Johann Fiedirich Herbanrth, William T. Horris
c)    Aksiologi Perenialisme
Aristoteles, St. Thomas Aquinas
d)    Aksiologi Rekonstruksionisme

b.    Science of truth
1)    Auguste comte
Dikenal sebagai the father of positivisme, dengan Law of three stages sebagai tesis utamanya. Pencapaian terbesar Comte adalah keberhasilannya menggabungkan deduksi rasional dan induksi empirik sebagai satu-satunya paradigma yang dapat dipegang untuk menghasilkan pengetahuan yang benar.
Pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan indrawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan sejati.
Pengalaman  indrawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan indralah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan pengabungan data-data indrawi belaka.
4)    John Locke
Dalam mencapai kebenaran manusia harus tahu sampai seberapa jauh ia memakai kemampuannya. Segala pengetahuan datang dari penglaman dan tidak lebih dari itu. Akal bersifat pasif saat pengetahuan didapatkan. Akal tidak mandapatkan pengetahuan dari dirinya sendiri diibaratkan ia adalah selembar kertas putih yang diberi warna oleh berbagai pengalaman
Empirisme, berpendirian bahwa hakikat pengetahuan adalah berupa pengalaman. David Home termasuk dalam aliran empirisme radikal menyatakan, bahwa ide-ide dapat dikembalikan pada sensasi-sensasi (ransangan indra
The Origin of Species (1859 M), Spencer sudah meneribitkan bukunya tentang teori evolusi. Empirismenya terlihat jelas dalam filsafat tentang the great unkwable (fenomena-fenomena atau gejala-gejala). Memang besar dibelakang gejala- gejala itu ada suatu dasar absolute, tetapi yang absolut itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala


c.    Structure of truth
1)    Kurl Godel
Pikiran manusia mampu bekerja mencari kebenaran yang tidak dapat dilakukan oleh prosedur mekanistis
3)    George Berckeley
4)    David Hume

d.    Process of thinking
1)    Thales
Meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta
2)    Thomas Aquinas https://id.wikipedia.org/wiki/Logika
3)    Alfred North Whitehead
4)    Bertrand Arthur William Russel
Bapak ilmu berpandangan bahwa ilmu pendidikan dibangun melalui riset pendidikan
a)kesimpulan yang diperoleh melalui penalaran induksi diuji lebih dulu dengan eksperimen, b)penggunaan eksperimen dalam penyelidikan ilmiah menambah ketelitian dan keluasan pengetahuan factual, c)dengan kekuatannya sendiir, tanpa bantuan ilmu-ilmu lainnya, ekpeirmen dapat menyeldidiki rahasia alam
Manusia diciptakan dan ditemoatkan di atas semua makhluk, karena kemampuannya dalam berpikir. Proses pendidikan tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan dilakukan secara terencana dan bertahap sesuai dengan tahapan perkembangan fisik dan psikis peserta didik.

e.    Social activities
1)    Auguste Comte
Masyarakat merupakan salah satu bagian dari alam yang mana menggunakan penelitian empiris digunakan untuk hokum-hukum sosial
2)    Herbet Spencer
Masyarakat mengalami evolusi dari yang awalnya merupakan masyarakat primitif dan kemudian menjadi masyarakat Industri.Sebagai organisme, manusia berevolusi sendiri terlepas dari tanggung jawab dan kemauannya serta dibawah suatu hokum
3)    Emile Durkheim
Durkheim lebih membicarakan tentang kesadaran kolektif yang digunakan sebagai kekuatan moral untuk mengikat individu di dalam suatu masyarakat. Melalui tulisannya yaitu The Division of Labor in Society, Durkheim menggunakan pendekatan kolektivis untuk sebuah pemahaman jika masyarakat dapat dikatakan modern atau primitif. Solidaritas tersebut dalam bentuk nilai, adat istiadat, serta kepercayaan yang diyakini bersama
4)    Max Weber
Weber mengamati bagaimana perilaku manusia berhubungan dengan sebab dan akibat dalam dunia sosial. Pandangan mengenai perilaku individu yang bisa mempengaruhi masyarakat secara luas, hal ini lah yang dinamakan s
ebagai Tindakan Sosial. Menurutnya, tindakan sosial bisa dipahami asalkan kita dapat memahami ide, niat, nilai, serta kepercayaan sebagai bentuk dari motivasi sosial (social action)
5)    Leopold Von Wiese
Memfokuskan pada hubungan antara manusia yang mana merupakan kenyataan sosial. Wiese meneliti mengenai klasifikasi proses-proses sosial yang ditekankan pada proses sosial asosiatif dan disosiatif.
Setiap orang yang dapat berpikir adalah seorang agen dan setiap agen dapat mengetahui bahwa maka agen tersebut dianggap sebagai subjek (agency - sociology)
Agensi manusia adalah suatu dinamika kolektif dan historis, alih-alih fungsi yang timbul dari perilaku individu (agency – philosophy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar